Dua Perusahaan Global Bertarung Dibelakang Kisruh Sepak Bola Eropa?
Budi Santoso
Selasa, 20 April 2021 13:35:10
Apresiasi Pembaca
Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com
Syarat dan Ketentuan
Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.
MURIANEWS, Kudus- Munculnya gagasan dari klub sepak bola terkemuka di Eropa, dengan European Super League (ESL), diketahui telah menimbulkan ‘geger’. Oleh UEFA, ESL dianggap sebagai sikap ‘arogansi’ klub-klub raksasa sepak bola itu. Sementara klub-klub raksasa Eropa merasa insentive yang mereka terima dari UEFA kurang.
Perseteruan UEFA dan 12 Klub Pendiri ESL, sampai saat ini masih terjadi. Menyusul gagasan ESL yang disampaikan, UEFA langsung merespon dengan berbagai sikap. Selain menyampaikan pernyataan resmi, mereka juga menyampaikan rencana mereka terhadap perubahan format Liga Champions.
Ada fakta menarik terkait kisruh sepak bola Eropa kali ini. Hal itu tidak lepas dari perusahaan-perusahaan global yang diduga berada di belakang masing-masing kepentingan. UEFA, dikabarkan tengah berdiskusi dengan Centricus Asset Management, sebuah perusahaan investasi yang berpusat di Londo, Inggris.
Bloomberg.com bahkan menyebut, Centericus Asset Management, berencana memberikan paket pembiayaan 6 miliar euro ($ 7,2 miliar) untuk merombak turnamen Liga Champions. Negosiasi sedang berlangsung dan belum ada kepastian apakah UEFA dan Centricus yang berbasis di London akan mencapai kesepakatan.
Pembicaraan dengan Centericus dilakukan UEFA dengan Liga Champions-nya, untuk bersiap ‘bertarung’ dengan Liga Super Eropa. Krisis ini menandai pergolakan terbesar sepak bola Eropa sejak 1950-an, dan berpeluang mengakhiri eksistensi Liga Champions sebagai panggung pentas klub utama dunia.
Sementara itu dari kelompok 12 klub sepak bola kaya di Eropa, mengumumkan rencana liga yang memisahkan diri dari UEFA mulai Agustus mendatang. ESL, yang mereka gagas, rencananya akan dibiayai oleh JPMorgan Chase&Co., sebuag perusahaan perbankan yang berpusat di Amerika.
JPMorgan Chase & Co., kabarnya sudah bersedia menggelontorkan dana senilai 4 Miliar Euro atau sekitar US$ 4,8 Miliar. Dengan dana sebesar ini, bahkan klub yang masuk dalam dalam Liga Super Eropa, sudah diiming-imingi dana segar sebesar 400 Juta dollar AS atau sekitar Rp5,8 Triliun.
Baca Juga
Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik
WhatsApp Channel
&
Google News




Liga Super Eropa, yang digagas klub-klub terkemuka Eropa, menimbulkan gejolak. Suporter Arsenal menggelar demo di Stadion Emirat, belum lama ini. (bloomberg.com/Tolga Akmen / AFP / Getty Images)[/caption]
MURIANEWS, Kudus- Munculnya gagasan dari klub sepak bola terkemuka di Eropa, dengan European Super League (ESL), diketahui telah menimbulkan ‘geger’. Oleh UEFA, ESL dianggap sebagai sikap ‘arogansi’ klub-klub raksasa sepak bola itu. Sementara klub-klub raksasa Eropa merasa insentive yang mereka terima dari UEFA kurang.
Perseteruan UEFA dan 12 Klub Pendiri ESL, sampai saat ini masih terjadi. Menyusul gagasan ESL yang disampaikan, UEFA langsung merespon dengan berbagai sikap. Selain menyampaikan pernyataan resmi, mereka juga menyampaikan rencana mereka terhadap perubahan format Liga Champions.
Ada fakta menarik terkait kisruh sepak bola Eropa kali ini. Hal itu tidak lepas dari perusahaan-perusahaan global yang diduga berada di belakang masing-masing kepentingan. UEFA, dikabarkan tengah berdiskusi dengan Centricus Asset Management, sebuah perusahaan investasi yang berpusat di Londo, Inggris.