Pihak penyelenggara turnamen tenis Grand Slam mengkonfirmasi hal ini. Dalam pernyataan resminya Selasa (25/4/2023), seperti dilansir AS, otoritas Grand Slam menyebut hal itu berkait dengan status Rusia dan Belarusia di konflik politik mereka dengan Ukraina.
Ketua All England Club, Ian Hewitt mengatakan keputusan berkait masalah ini adalah yang tersulit selama dirinya bekerja selama 4 tahun terakhir. Keputusan mencabut larangan keterlibatan atlet-atlet Rusia dan Belarusia diambil dengan sejumlah pertimbangan.
"Ini adalah keputusan yang sangat sulit. Saya pikir pernyataan kami pada 31 Maret menetapkan posisi sejelas mungkin, yaitu bahwa ada pertimbangan beberapa faktor dan perkembangan sejak tahun lalu yang mengarah pada keputusan kami kali ini," ujar Hewitt.
Wibledon dan turnamen tenis lapangan rumput Inggris lainnya menjadi satu-satunya turnamen yang melarang pemain Rusia dan Belarusia terlibat. Hal itu terjadi sejak Rusia menginvasi Ukraina.
Mereka yang dilarang tampil, pada akhirnya kehilangan poin mereka di peringkat akhirnya terpengaruh. Karena itu, pada turnamen tahun ini, pemain Rusia dan Belarusia harus berkompetisi sebagai pemain netral.
BACA JUGA: Petenis Dunia Yayuk Basuki Buka Kejurnas Tenis Junior di PatiMereka juga harus membuat pernyataan untuk tidak mendukung perang atau rezim yang terlibat. Selain iru juga harus bebas dari pendanaan dari bisnis yang didukung negara."Pengembangan kata-kata dari deklarasi tersebut jelas didasarkan pada pedoman pemerintah, bekerja sama dengan Tours, ITF dan mitra kami di LTA," kata CEO All England Club, Sally Bolton dalam kesempatan yang sama."Segera setelah kami membuat pengumuman, para pemain dapat menandatangani deklarasi dan mereka dapat melakukannya hingga batas waktu entri. Saya tidak akan membagikan detail siapa tetapi sejumlah pemain telah menandatanganinya," tambah Bolton.Pihak penyelenggara Wibledon menyatakan tetap mendengarkan pendapat dari para atlet terkait masalah ini. Tahun lalu mereka meminta opsi agar bisa tetap turun di turnamen, meski harus menandatangani deklarasi.
Murianews, London – Sejumlah petenis Rusia dan Belarusia turun di Wimbledon 2023. Namun keikutsertaan mereka di ajang tenis kelas dunia ini mereka mengatasnamakan pribadi sebagai pemain netral.
Pihak penyelenggara turnamen tenis Grand Slam mengkonfirmasi hal ini. Dalam pernyataan resminya Selasa (25/4/2023), seperti dilansir AS, otoritas Grand Slam menyebut hal itu berkait dengan status Rusia dan Belarusia di konflik politik mereka dengan Ukraina.
Ketua All England Club, Ian Hewitt mengatakan keputusan berkait masalah ini adalah yang tersulit selama dirinya bekerja selama 4 tahun terakhir. Keputusan mencabut larangan keterlibatan atlet-atlet Rusia dan Belarusia diambil dengan sejumlah pertimbangan.
"Ini adalah keputusan yang sangat sulit. Saya pikir pernyataan kami pada 31 Maret menetapkan posisi sejelas mungkin, yaitu bahwa ada pertimbangan beberapa faktor dan perkembangan sejak tahun lalu yang mengarah pada keputusan kami kali ini," ujar Hewitt.
Wibledon dan turnamen tenis lapangan rumput Inggris lainnya menjadi satu-satunya turnamen yang melarang pemain Rusia dan Belarusia terlibat. Hal itu terjadi sejak Rusia menginvasi Ukraina.
Mereka yang dilarang tampil, pada akhirnya kehilangan poin mereka di peringkat akhirnya terpengaruh. Karena itu, pada turnamen tahun ini, pemain Rusia dan Belarusia harus berkompetisi sebagai pemain netral.
BACA JUGA: Petenis Dunia Yayuk Basuki Buka Kejurnas Tenis Junior di Pati
Mereka juga harus membuat pernyataan untuk tidak mendukung perang atau rezim yang terlibat. Selain iru juga harus bebas dari pendanaan dari bisnis yang didukung negara.
"Pengembangan kata-kata dari deklarasi tersebut jelas didasarkan pada pedoman pemerintah, bekerja sama dengan Tours, ITF dan mitra kami di LTA," kata CEO All England Club, Sally Bolton dalam kesempatan yang sama.
"Segera setelah kami membuat pengumuman, para pemain dapat menandatangani deklarasi dan mereka dapat melakukannya hingga batas waktu entri. Saya tidak akan membagikan detail siapa tetapi sejumlah pemain telah menandatanganinya," tambah Bolton.
Pihak penyelenggara Wibledon menyatakan tetap mendengarkan pendapat dari para atlet terkait masalah ini. Tahun lalu mereka meminta opsi agar bisa tetap turun di turnamen, meski harus menandatangani deklarasi.