Senin, 27 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.


MURIANEWS, Jepara- Nama Warsidi sempat menggema di kalangan pecinta bola era 2000-an awal. Tak disangka, ternyata pemain legenda sepakbola nasional itu adalah warga Jepara.

Semasa kecil, Warsidi kerap menghabiskan waktunya tiap sore di lapangan sepakbola di dekat rumahnya, Desa Gedangan, Kecamatan Welahan, Kabupaten Jepara. Sampai saat ini lapangan ini masih terus menjadi pusat kegiatan masyarakat Gedangan dan sekitarnya.

Bersama teman-temannya, ia memainkan si kulit bundar itu tanpa bersepatu. Baginya, sepakbola mula-mula memang hanya sekadar hobi. Namun lambat laun setelah berjalannya waktu, hobi-nya itu akhirnya diyakini telah menjadi sebuah profesi yang bisa menghidupi.

Warsidi, yang lahir pada 22 Agustus 1979 itu mengaku tidak menjalani pelatihan khusus sepak bola di waktu kecil. Dirinya mengaku belajar sepakbola secara otodidak. Tidak pernah dirinya mendaftarkan diri ke Sekolah Sepak Bola (SSB) misalnya. Namun demikan, keahliannya memainkan sepakbola diakui teman-teman dan tetangganya.

BACA JUGA: Legenda Persijap Berharap Tim Laskar Kalinyamat Segera ‘Bangun dari Tidur’
"Mungkin karena bakat alam," kata dia, baru-baru ini.

Pada 1994, merupakan tonggak sejarah bagi perkembangan karir sepak bolanya. Dirinya saat itu menjajal seleksi Persijap Junior di Stadion Kamal Junaidi. Prosesnya terbilang mengharukan. Pasalnya, saat akan mengikuti seleksi, ia tidak memiliki sepatu sepakbola."Bapak dan ibu saya petani kehidupan kami pas-pasan. Akhirnya saya dipinjami sepatu tetangga," ujarnya.Dari sepatu pinjaman itu, ia mengikuti seleksi dan akhirnya lolos seleksi dan membela Persijap Junior hingga 1996. Setelah itu, pada 1997 dirinya hijrah menimba ilmu ke Diklat Ragunan. Sampai akhirnya pada 1999, untuk pertama kalinya bisa membela klub profesional Persita Tangerang."Pada 2001 saya dapat panggilan timnas untuk berlaga di SEA Games," kenangnya.Sejak saat itu, Warsidi yang kemudian memiliki nama beken Warsidi Ardy menjadi langanan Timnas Indonesia. Warsidi juga sempat malang melintang di berbagai klub top tanah air, seperti Pelita Jaya dan Persija Jakarta.Reporter: Faqih Mansur HidayatEditor: Budi Erje

Baca Juga

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Terpopuler