Apresiasi Pembaca
Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com
Syarat dan Ketentuan
Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.
Bagi dunia olah raga nasional, ada beberapa peristiwa penting yang layak dijadikan sebagai sebuah pelajaran. Peristiwa-peristiwa ini terjadi secara mengejutkan, dan tidak pernah diinginkan.
Tragedi Kanjuruhan
[caption id="attachment_321613" align="alignleft" width="1173"]
Disaat Timnas Indonesia tampil gacor, malah muncul tragedi Kanjuruhan. Situasi ini sungguh tidak seperti yang diharapkan.(tangkapan Layar)[/caption]Tepat pada 1 Oktober 2022, sebuah kejadian telah membuat sejarah sepak bola nasional berubah kelam. Kerusuhan pasca pertandingan sepak bola Liga 1 antara Arema FC vs Persebaya di Stadion Kanjuruhan Malang, pecah.
Kejadian ini tidak hanya menyentak public sepak bola nasional. Namun kejadian ini juga menjadi yang terburuk di dunia. Seluruh dunia mengutuk kejadian yang mengerikan ini.
Dari catatan yang ada, sebanyak 712 orang menjadi korban. Rinciannya, sebanyak 132 orang meninggal dunia, 96 orang luka berat, dan 484 orang luka ringan/sedang. Tragedi Kanjuruhan yang terjadi pada 1 Oktober 2022 akan selalu dikenang sebagai salah satu insiden terburuk dalam sejarah Indonesia dan bahkan dunia.
Dari seluruh catatan kerusuhan yang terjadi di seluruh dunia, Tragedi Kanjuruhan menjadi yang terburuk kedua. Jumlah korban meninggal, menjadi yang terbanyak kedua setelah kerusuhan Estadio Nacional di Peru pada 1964.
BACA JUGA: Korban Meninggal Tragedi Kanjuruhan Bertambah Menjadi 135 Orang
Duka masyarakat Malang dan Indonesia, akhirnya menjadi duka bagi dunia. Semua kompetisi sepak bola di seluruh dunia memberikan penghormatan pada seluruh korban di kerusuhan yang mengerikan ini.
Pemerintah Indonesia mengambil sikap dengan membentuk Tim Gabungan Independen Pencari Fakta (TGIPF) Tragedi Kanjuruhan. Dari hasil kerjanya, mereka menyebut kejadian ini disebabkan gas air mata yang dilepas anggota kepolisian.
Gas air mata yang ditembakkan membabi buta ke arah tribune membuat penonton berdesak-desakan di akses keluar stadion. Situasi inilah yang akhirnya menimbulkan korban jatuh berkelimpangan.
FIFA dalam hal ini juga akhirnya turun tangan untuk memberikan assessment terhadap kejadian ini. Bersama Pemerintah dan PSSI, FIFA menyatakan siap membantu Indonesia menangani permasalah sepak bolanya.
Dari sisi pidana, dari kejadian ini juga dilakukan beberapa tindakan. Polisi telah menjadikan
eks Direktur Utama PT LIB Akhmad Hadian Lukita dan beberapa anggota Panpel Arema menjadi tersangka. Namun hingga kini, penanganan hukumnya belum diketahui perkembangannya.
Sejauh ini tidak ada tersangka tambahan dalam Tragedi Kanjuruhan. Desakan kepada Ketua Umum PSSI Mochamad Iriawan juga muncul. Sampai akhirnya muncul percepatan dilakukannya Kongres Luar Biasa.
Kevin/Marcus kalah dari juniornya Fajar/Rian di Final Ganda Putra Denmark Open 2022. (facebook.com/badmintalk/photos)[/caption]Kejadian di seputar olah raga yang cukup menyita perhatian adalah kesalahan announcer di Denmark Open 2022. Kesalahan fatal itu terjadi di momen penyerahan hadiah terhadap pasangan ganda putra Indonesia.Tidak hanya sekali, namun announcer di turnamen ini melakukan dua kali kesalahan. Itu terjadi saat mereka menyebut pemenang dari nomor ganda putra turnamen ini berasal dari Malaysia.Padahal di partai final sektor ganda putra itu terjadi all Indonesian final, antara pasangan Marcus Fernaldi Gideon/ Kevin Sanjaya Sukamuljo dengan pasangan Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto. Penyebutan negara yang salah itu terjadi pada dua pasangan ganda putra Indonesia.BACA JUGA: Kesalahan Announcer Denmark Open 2022 DikecamKejadian ini menimbulkan kecaman dari sejumlah pihak, terutama dari dunia badminton Indonesia. Kesalahan dua kali bahkan dianggap sebagai sebuah ‘kesengajaan’. Meski kesannya sepele, namun kesalahan itu memang cukup menyinggung harga diri Indonesia.Bentrok Suporter di Kudus[caption id="attachment_317894" align="alignleft" width="1280"]
Kericuhan antara Suporter Kudus dengan Suporter Jepara terjadi Minggu (18/9/2022).(tangkapan layar)[/caption]Selanjutnya di tingkat lokal, sepak bola Indonesia lagi-lagi selalu diwarnai dengan kejadian bentrok supporter. Kejadian di Kudus, menjadi salah satu kejadian di tingkat lokal yang menyita perhatian. Sejumlah kelompok supporter dari Jepara dan Kudus terlibat bentrok.Kejadian bentrok itu berlangsung pada Minggu (18/9/2022) di Jalan Raya masuk Desa Ngembal Kulon, Jati, Kudus. Sekelompok supporter Jepara mendapatkan serangan saat melintas di Kudus usai mendukung timnya bermain di Pati, di Liga 2 2022.Serangan ini kemudian direspon dengan melakukan perlawanan. Sehingga menimbulkan bentrok. Kejadian ini menimbulkan kerusakan beberapa fasilitas umum. Sebuah gedung sekolah, beberapa rumah warga dan mobil di Ngembal Kulon, mengalami kerusakan.Bentrok antar supporter sepak bola sepanjang 2022 memang selalu menimbulkan was-was masyarakat. Masalah seperti ini terus berulang di setiap putaran kompetisi sepak bola. Apa akar masalahnya, sampai saat ini masih belum bisa dipastikan.Penulis: Budi SantosoEditor: Budi Santoso
Baca Juga
Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik
WhatsApp Channel
&
Google News



