Senin, 27 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.


Itu terjadi setelah Garuda Muda ditundukkan tim Jepang dengan skor 0-3. Kekalahan terasa begitu menyakitkan lantaran. Apalagi, tim beregu kadet putra merupakan tumpuan awal setelah Juli lalu mereka berhasil mempersembahkan perunggu di kejuaraan ASEAN di Filipina.

Hafidh Nuur Annafi yang dipercaya bertanding di awal laga dipaksa mengakui keperkasaan Tim Matahari Terbit. Meski begitu, ia berhasil memberikan perlawanan sengit hingga membuat pemain Jepang menguras keringat.

Kegigihan Hafidh juga diikuti partnernya, Rafanael Nikola Niman. Pemain asal Jakarta ini pun membuat pemain Jepang kalang kabut dengan reli panjang dengan poin 3-1. Hanya saja, hal itu belum cukup.

Di set ketiga Hafidh yang dipasangkan dengan Rafanael pun tak berkutik. Mereka dihabisi dan didepak secara paksa untuk ikut berebut gelar.

[caption id="attachment_147013" align="alignnone" width="1153"] Pemain Indonesia, Rafanael Nikola Niman berusaha menerima bola dari pemain Jepang. (MuriaNewsCom/Supriyadi)[/caption]

 

Pelatih tim putra Indonesia, Agus Fredi Pramono mengakui kekuatan Jepang. Meski begitu ia juga mengapresiasi kegigihan anak asuhnya. Terlebih lagi, mereka berhasil membuat para pemain Jepang bertarung dengan semua skill yang dimiliki.”Iya kita kalah dari Jepang. Skornya 0-3. Tapi pemain sudah menunjukkan perlawanan yang begitu sengit. Dengan hasil ini pemain bisa semakin mengukur baju dengan kekuatan yang dimiliki,” katanya.Tak hanya ukur baju, lanjut Fredi, pemain Indonesia juga tak bisa bersantai-santai jika ingin terus berkembang. Apalagi, di luar sana, masih banyak pemain yang lebih bagus dan pintar dibandingkan Jepang.”Dengan begini, kalau ada yang mau bersantai-santai harus berfikir dua kali. Kalau tetap santai, bisa jadi mereka semakin ketinggalan,” tegasnya.Disinggung terkait  harapan untuk meraih prestasi, Fredi mengaku masih berharap dari kelas perorangan. Ini lantaran, masih banyak pemain yang belum bisa mengeluarkan kemampuan terbaiknya karena berbagai faktor.”Kalau di perorangan tentu mereka lebih bisa untuk mengeksplore kemampuan yang dimiliki. Kita tunggu saja nanti. Siapa tahu, hasil drawing dari panitia mempertemukan pemain Indonesia dengan pemain yang sepadan,” tambahnya.Editor: Deka Hendratmanto

Baca Juga

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Terpopuler