Senin, 27 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.


Galatama adalah salah satu dari beberapa kompetisi sepak bola yang pernah ada.

Galatama merupakan akronim dari Liga Sepak Bola Utama, sebuah kompetisi yang digagas PSSI di era kepemimpinan Ali Sadikin.  Galatama  dikenal sebagai salah satu tonggak pembinaan sepak bola di Indonesia. Bisa dikatakan, kompetisi inilah yang akhirnya menjadi cikal bakal Liga Indonesia saat ini.

Galatama memang bukan kompetisi yang pertama di sepak bola Indonesia. Namun harus diakui,  ini adalah ‘lompatan’ luar biasa bagi terbentuknya kompetisi sepak bola modern di Indonesia.

Sejumlah literatur menyebutkan, Galatama pertama kali diluncurkan pada Oktober 1978 dalam kongres PSSI. Mulai Maret 1979 kompetisi ini resmi digulirkan dengan mengadopsi kompetisi di Eropa yang menerapkan pembinaan sepak bola semiprofesional.

Sepak bola Indonesia sebenarnya layak berbangga dengan munculnya Galatama ini. Sebab setidaknya untuk kawasan Asia, Indonesia bisa dikatakan menjadi yang pertama menerapkan kompetisi sepak bola semiprofesional.



Jauh sebelum J League (Jepang), K League (Korsel) atau China League menjadi liga sepak bola terbesar di Asia, Indonesia telah memulainya. Galatama bisa dikatakan menjadi pelopor bagi kompetisi sepak bola modern di kawasan Asia.

Indonesia pada saat itu sebenarnya sudah memiliki kompetisi perserikatan, yang dikelola dalam format amatir. Di luar itu ada beberapa basis kompetisi, di antaranya  Galakarya (Liga Sepak Bola Karya), Galasiswa (Liga Sepak Bola Mahasiswa), dan Galanita (Liga Sepak Bola Wanita).
Indonesia pada saat itu sebenarnya sudah memiliki kompetisi perserikatan, yang dikelola dalam format amatir. Di luar itu ada beberapa basis kompetisi, di antaranya  Galakarya (Liga Sepak Bola Karya), Galasiswa (Liga Sepak Bola Mahasiswa), dan Galanita (Liga Sepak Bola Wanita).Kompetisi perserikatan harus diakui telah mandarah daging dalam persepakbolan Indonesia. Kompetisi ini bahkan sudah berlangsung sejak Indonesia belum merdeka. Kompetisi ini juga sempat menjadi ‘alat perjuangan’ dalam upaya merebut kemerdekaan.Namun karena pengelolaannya masih amatir, Ali Sadikin mencoba untuk membuat terobosan bagi upaya pembinaan sepak bola yang lebih baik. Saat itu dimunculkan sebuah analogi bahwa sepak bola Indonesia membutuhkan konsep ”Universitas Sepak Bola’’.Kompetisi perserikatan yang masih amatir dianalogikan sebagai ’’SMA Sepak Bola Indonesia’’. Sehingga dalam konsep pembinaan sepak bola Indonesia, PSSI berharap potensi-potensi yang muncul dari perserikatan ditingkatkan kualitasnya di Galatama. (Bersambung: Mengenal Kembali Sejarah Galatama (2/3) Tim Liputan Khusus Diolah dari berbagai sumber 

Baca Juga

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News