Senin, 27 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.


’’Saat itu, Sukun memiliki PS Sukun. Sementara, Pak Sumaryoto (pemilik PO Gajah Mungkur, red) memiliki PS Gajah Mungkur,’’ kenang  Ratmoko, mantan kiper Gajah Mungkur Muriatama.

Selanjutnya, kedua pihak sepakat membentuk klub sepak bola yang didaftarkan ke kompetisi Galatama tahun 1989 dengan menggabungkan PS Sukun dan PS Gajah Mungkur. Klub hasil merger itu diberi nama Gajah Mungkur Muriatama.

”Saya ingat dulu waktu dikumpulkan, bos saya bilang kalau kami akan ikut kompetisi Galatama dan Sukun akan menjadi sponsor tunggalnya. Semua sangat bersemangat karena Galatama itu kompetisi bergengsi Indonesia pada waktu itu,” ucap Sutamto, eks-striker Gajah Mungkur Muriatama.

Para pemain klub ini berasal dari PS Sukun dan PS Gajah Mungkur ditambah beberapa pemain dari luar. Semua pemain diseleksi, baik pemain PS Gajah Mungkur maupun PS Sukun.

”Semua mendapat perlakuan yang sama,” sambung pemain Tim Nasional era 1994 itu.



Di musim perdananya tahun 1990, Gajah Mungkur Muriatama bermain di Divisi I Galatama. Saat itu kompetisi Galatama dibagi dalam dua level yakni Divisi I dan Divisi Utama. Divisi I Galatama saat itu hanya dihuni delapan tim, di antaranya Bentoel Galatama (Jember), Gelora Dewata 89 (Denpasar),  Putra Mahakam (Samarinda), Bogor Jaya (Bogor), Aceh Putra Galatama (Lhokseumawe), Assyabaab (Surabaya), dan Gajah Mungkur Muriatama (Kudus).
Saat itu, Gajah Mungkur Muriatama memakai Stadion Wergu Wetan Kudus sebagai kandang. Karena dua lapangan di Wonogiri yang biasa digunakan pemain PS Gajah Mungkur berlatih dinilai tidak memenuhi kelayakan untuk mengikuti kompetisi.’’Saat itu Wonogiri belum memiliki stadion sepak bola. Sukun kemudian mengajukan sewa kelola lapangan Wergu Wetan selama 25 tahun,’’ kata Hasbullah, mantan bek Gajah Mungkur Muriatama.Untuk keperluan mengikuti kompetisi, lanjut Hasbullah, Sukun kemudian membangun tribun penonton di sisi timur dan barat lapangan serta pagar dinding sekeliling lapangan. Selain itu juga dibangun ruangan untuk mess pemain di bawah tribun barat. Bantuan Sukun tersebut kemudian dikompensasikan dalam bentuk sewa kelola Stadion Wergu Wetan selama 25 tahun. (Bersambung: ) Tim Liputan Khusus https://www.youtube.com/watch?v=EUpKUwFRd_k

Baca Juga

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Terpopuler