Kabid Olahraga Disdikpora Kabupaten Kudus, Kodhori mengatakan, pihaknya tidak pernah menarik iuran ke pihak cabang olahraga manapun yang ikut serta di Popda Kabupaten Kudus. Bahkan, di setiap rapat dan technical meeting pihaknya selalu menyampaikan jangan ada pungutan uang.
"Kami laksanakan rapat sebanyak tiga kali. Mulai dari rapat koordinasi, rapat dengan panpel, dan technical meeting selalu kami sampaikan jangan ada pungutan," katanya, Selasa (21/2/2023).
Menurutnya, pihaknya hanya membahas soal teknis penyelenggaraan Popda. Tidak ada pembahasan soal penarikan uang di setiap cabang olahraga.
"Di tiga kali rapat itu kami hanya membahas pelaksanaan Popda. Tidak ada sama sekali pembahasan tarikan uang. Saya tidak tahu kalau mungkin ada rapat lain di luar tiga rapat tadi," imbuhnya.
Hal yang sama disampaikan oleh Kasi Pengembangan dan Pemberdayaan Olahraga (PPOR) Dinas Pendidikan Kepemudaan dan Olahraga (Disdikpora) Kudus, Widhoro Heriyanto. Menurutnya, pihaknya tidak melakukan pungtan uang maupun kontribusi peserta dalam bentuk apapun.
BACA JUGA: Tarik Iuran untuk Gelar Pra Popda 2023, MGMP Olahraga SMA Kudus Dituding Pungli "Terkait iuran Popda itu sama sekali tidak ada. Kami juga tidak ada instruksi dan penekanan adanya tarikan iuran per peserta," katanya, Selasa (21/2/2023).
Namun, fakta di lapangan berkata lain. Salah satu cabang olahraga yang ikut serta di Popda tingkat Kabupaten Kudus dalam hal ini pencak silat, dari pihak penyelenggara terang-terangan menarik iuran Rp50 ribu per peserta.
Wakil Ketua Harian IPSI Kudus, Ahmad Fuad mengakui adanya iuran Rp50 ribu per peserta. Dia menjelaskan, dana pelaksanaan Popda cabang olahraga pencak silat yang diberikan oleh pihak Disdikpora Kabupaten Kudus sebesar Rp6 juta tidak cukup.
"Disdikpora Kudus hanya memberikan Rp6 juta. Padahal kebutuhan untuk menyelenggarakan even Popda ini Rp30 juta," katanya, Senin (20/2/2023).
Menurut Ahmad Fuad, pihaknya sudah berkoordinasi dengan pihak Disdikpora Kudus. Dari penjelasannya, pihak Disdikpora memperbolehkan dan tidak keberatan.Menanggapi hal ini, Widhoro Heriyanto mengaku tidak dapat berbuat banyak. Pihaknya tidak dapat melakukan intervensi ke tiap-tiap penyelenggara Popda."Kami nanti koordinasi dengan panpel di masing-masing cabor. Karena kalau sudah ranahnya panpel, kami tidak dapat mengintervensi. Kami juga akan menyampaikan ke pimpinan jangan sampai ada lagi hal seperti ini," imbuhnya.
BACA JUGA: Soal Pungutan Pra Popda, Disdikpora Kudus Angkat BicaraSementara itu, Ketua MGMP PJOK SMA, Sumitro menjelaskan, sebelumnya di tiga cabang olahraga terdiri dari basket, voli, dan sepak bola memang ada iuran. Sebab, jumlah peserta membeludak sehingga membutuhkan biaya operasional tambahan.Pihaknya menjelaskan, jumlah tim yang ikut serta di tiap-tiap cabang olahraga tergolong banyak. Tim basket putra SMA yang ikut serta ada 13 tim, sedangkan tim basket putri ada 8 tim.Lalu ada tim sepak bola SMA sebanyak 10 tim, voli putra sebanyak 20 tim, dan voli putri sebanyak 12 tim. Besaran kontribusi iuran untuk cabang olahraga basket yakni Rp350 ribu per tim untuk tim putra dan Rp350 ribu per tim untuk putri. Sedangkan untuk cabang olahraga voli dan sepak bola tidak disebutkan besarannya."Tetapi iuran tersebut akan kami kembalikan hari ini. Kami akan bertemu dengan pihak-pihak cabang olahraga tersebut. Pada intinya kami kembalikan," terangnya. Reporter: Vega Ma'arijil UlaEditor: Budi Santoso
Murianews, Kudus – Dinas Pendidikan Kepemudaan dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Kudus, Jawa Tengah membantah adanya uang pungutan di ajang Pekan Olahraga Pelajar Daerah (Popda) Kabupaten Kudus 2023. Pihak Disdikpora Kudus menampik hal tersebut.
Kabid Olahraga Disdikpora Kabupaten Kudus, Kodhori mengatakan, pihaknya tidak pernah menarik iuran ke pihak cabang olahraga manapun yang ikut serta di Popda Kabupaten Kudus. Bahkan, di setiap rapat dan technical meeting pihaknya selalu menyampaikan jangan ada pungutan uang.
"Kami laksanakan rapat sebanyak tiga kali. Mulai dari rapat koordinasi, rapat dengan panpel, dan technical meeting selalu kami sampaikan jangan ada pungutan," katanya, Selasa (21/2/2023).
Menurutnya, pihaknya hanya membahas soal teknis penyelenggaraan Popda. Tidak ada pembahasan soal penarikan uang di setiap cabang olahraga.
"Di tiga kali rapat itu kami hanya membahas pelaksanaan Popda. Tidak ada sama sekali pembahasan tarikan uang. Saya tidak tahu kalau mungkin ada rapat lain di luar tiga rapat tadi," imbuhnya.
Hal yang sama disampaikan oleh Kasi Pengembangan dan Pemberdayaan Olahraga (PPOR) Dinas Pendidikan Kepemudaan dan Olahraga (Disdikpora) Kudus, Widhoro Heriyanto. Menurutnya, pihaknya tidak melakukan pungtan uang maupun kontribusi peserta dalam bentuk apapun.
BACA JUGA: Tarik Iuran untuk Gelar Pra Popda 2023, MGMP Olahraga SMA Kudus Dituding Pungli
"Terkait iuran Popda itu sama sekali tidak ada. Kami juga tidak ada instruksi dan penekanan adanya tarikan iuran per peserta," katanya, Selasa (21/2/2023).
Namun, fakta di lapangan berkata lain. Salah satu cabang olahraga yang ikut serta di Popda tingkat Kabupaten Kudus dalam hal ini pencak silat, dari pihak penyelenggara terang-terangan menarik iuran Rp50 ribu per peserta.
Wakil Ketua Harian IPSI Kudus, Ahmad Fuad mengakui adanya iuran Rp50 ribu per peserta. Dia menjelaskan, dana pelaksanaan Popda cabang olahraga pencak silat yang diberikan oleh pihak Disdikpora Kabupaten Kudus sebesar Rp6 juta tidak cukup.
"Disdikpora Kudus hanya memberikan Rp6 juta. Padahal kebutuhan untuk menyelenggarakan even Popda ini Rp30 juta," katanya, Senin (20/2/2023).
Menurut Ahmad Fuad, pihaknya sudah berkoordinasi dengan pihak Disdikpora Kudus. Dari penjelasannya, pihak Disdikpora memperbolehkan dan tidak keberatan.
Menanggapi hal ini, Widhoro Heriyanto mengaku tidak dapat berbuat banyak. Pihaknya tidak dapat melakukan intervensi ke tiap-tiap penyelenggara Popda.
"Kami nanti koordinasi dengan panpel di masing-masing cabor. Karena kalau sudah ranahnya panpel, kami tidak dapat mengintervensi. Kami juga akan menyampaikan ke pimpinan jangan sampai ada lagi hal seperti ini," imbuhnya.
BACA JUGA: Soal Pungutan Pra Popda, Disdikpora Kudus Angkat Bicara
Sementara itu, Ketua MGMP PJOK SMA, Sumitro menjelaskan, sebelumnya di tiga cabang olahraga terdiri dari basket, voli, dan sepak bola memang ada iuran. Sebab, jumlah peserta membeludak sehingga membutuhkan biaya operasional tambahan.
Pihaknya menjelaskan, jumlah tim yang ikut serta di tiap-tiap cabang olahraga tergolong banyak. Tim basket putra SMA yang ikut serta ada 13 tim, sedangkan tim basket putri ada 8 tim.
Lalu ada tim sepak bola SMA sebanyak 10 tim, voli putra sebanyak 20 tim, dan voli putri sebanyak 12 tim. Besaran kontribusi iuran untuk cabang olahraga basket yakni Rp350 ribu per tim untuk tim putra dan Rp350 ribu per tim untuk putri. Sedangkan untuk cabang olahraga voli dan sepak bola tidak disebutkan besarannya.
"Tetapi iuran tersebut akan kami kembalikan hari ini. Kami akan bertemu dengan pihak-pihak cabang olahraga tersebut. Pada intinya kami kembalikan," terangnya.
Reporter: Vega Ma'arijil Ula
Editor: Budi Santoso